Namanya Ulfarah Ardila, panggil saja dia Ufa. Gadis cantik dan lucu terlahir sempurna di mata Tuhannya, namun dia terawat bukan dari rahim sang ibu sekarang, melainkan entah dari siapa yang berkorban mengeluarkan dia menuju dunia yang fana ini. Dulu, ibunya yang belum bisa hamil menginginkan anak yang ingin dikandungnya sendiri, kemudian Ayahnya yang bukan juga ayah kandung Ufa, mengadopsi dia ketika masih bayi dari Panti Asuhan kasih Ibu, menurut kepercayaan para leluhur menyebutkan dia sebagai "pancingan", agar nanti Ibunya dapat hamil. dan tak disangka selang 5 bulan setelah mengadopsi Ufa, Ibu itu hamil, lalu lahirlah seorang bayi kecil perempuan yang diberi nama Chantal Cyrilia, atau Cyril, nama yang jauuh lebih bagus dari Ufa.
15 tahun kemudian, Ufa dan Cyril tumbuh menjadi wanita yang cantik dan berbakat. Cyril yang bakatnya jadi modeling dia punya pacar berwajah tampan bernama Rino, dan Ufa yang selalu menjadi bintang di sekolahnya, dia anak yang pandai dan cerdas, tetap rendah hati, namun dia tak seberuntung Cyril dalam soal percintaan. Suatu hari ada perlombaan modeling antar sekolah, dan tidak bisa ditanyakan lagi, sudah jelas Cyril terpilih jadi model di perlombaan itu. Dan hasilnya setelah dia mengikuti lomba itu, dia terpilih menjadi juara 1. Dia berlari membawa pialanya pulang ke rumah disusul kakaknya meski bukan kakak kandung, siapa lagi dia Ufa.
Cyril : " Ibu aku juara 1 !!" (memeluk Ibu)
Ibu : "wah syukurlah, nanti kamu taroh pialanya di lemari ruang tamu ya, Ibu bangga padamu nak"
Cyril : "siap bu !" (mencium kening Ibu dan berlari ke kamar disusul Ufa)
Ibu : "Ufa"
Ufa : "iya bu"
Ibu : 'tolong belikan makanan buat Cyril ya"
Ufa : "uangnya bu?"
Ibu : (terdiam) "em ini" (menyerahkan uang)
Setelah Ufa pulang membawa makanan Cyril, Ufa menemaninya makan di meja makan.
Cyril : "apa kamu?"
Ufa : "eh engga papa, selamat ya kamu bisa menang lagi"
Cyril : (minum air putih) "iya pasti lah aku kan anak cantik dan punya segudang bakat, ngga kaya kamu punya muka pas pas-an"
Ufa : (tersenyum)
Cyril : "ngapain kamu disini terus? kamu lapar? nih kamu makan bekasanku aja ya hahaha" (kemudian ayahnya pulang membawa makanan)
Ayah : "lho kok yang makan cuma kamu Ril? Ufa mana?"
Ufa : "Ufa udah makan kok Yah.." (berbohong)
Ayah : "Ini makan lagi"
Ufa : "tapi Yah..."
Ayah : "sudah, Ayah tau kamu belum makan" (meninggalkan mereka berdua)
Cyril : "oke, kali ini kamu boleh menang" (meninggalkan Ufa)
Esok harinya di kelas Ufa, Ufa bergaul dengan banyak teman, dia tidak pilih pilih dalam memilih teman, siapapun dia gauli tidak memandang laki laki atau perempuan. Tapi dia cenderung lebih akrab dengan Yuda, pria tampan yang selalu menemaninya dalam keadaan apapun, sifat dia pun tidak dingin seperti laki laki tampan pada umumnya, dia bukan pacarnya, tapi dia sahabatnya yang mereka jalin sejak mereka kelas 6 SD. Yuda juga punya pacar, awalnya Ufa canggung untuk berteman dengan dia lagi namun pacar Yuda orang yang sangat mengerti, memang.. Yuda tidak salah pilih.
Yuda : "Fa, Cyril hebat ya"
Ufa : "iya, ngga kaya aku"
Yuda : " kok kamu gitu Fa, maaf bukan maksudku gitu"
Ufa : "hehe aku becanda kaliii"
Yuda : "yah kamu kebiasaan, eh tapi menurutku Cyril sama kamu lebih berbakat kamu deh"
Ufa : "engga ah, Cyril cantik selalu jadi juara, dan.."
Yuda : "dan dipuji sama Ibu kamu?" (Ufa tersenyum)
Yuda : "aku ngga mau liat kamu kaya gitu, makan yok"
Ufa : "oke monyeeett"
Yuda : "yah dasar kau monyet racun"
mereka makan di kantin.
disela sela mereka makan, Ufa dipanggil guru mapel Astonomi, lalu Ufa berlari menuju guru dan meninggalkan Yuda yang sedang makan.
Bu Ana : "Fa, benar benar kabar yang tidak bisa dilawan. sekolah kita harus menyerahkan satu diantara anak anak disini untuk mengikuti lomba Olimpiade Astronomi tingkat Nasional. apa kamu mampu untuk melakukan itu?"
Ufa : "ibu tidak salah memilih saya?"
Bu Ana : "sepertinya tidak, Ibu tau kamu lebih pintar di mata pelajaran astronomi dan Ibu juga tau kamu suka dengan pernyataan Ibu tadi, kalau kamu bersedia nanti sepulang sekolah Ibu akan mengajar kamu di laboratorium bahasa ya"
Ufa : "emm Bu.."
Bu Ana : "Ibu percaya kamu..."
Ufa : "baik bu, saya akan melakukan yang terbaik" (ucapnya mantap)
Sepulang les astronomi yang diajar oleh Bu Ana, dia pulang sekolah dengan wajah tersenyum tanpa ada mimik rasa lelah dan menyerah. Ufa pulang menuju rumahnya yang sederhana menemui Ayahnya yang sudah pulang sejak 2 jam yang lalu, sejak dia memulai lesnya.
Ufa : "Ayah" (bersalaman)
Ayah : "kenapa jam segini kamu baru pulang?"
Ufa : "Ufa les yah, Ufa ikut lomba olimpiade Astronomi tingkat kabupaten minggu depan"
Ayah : "wah , hebat anak Ayah, belajar yang rajin ya, Ayah tau kalau.." (tiba tiba Ibu muncul dari belakang)
Ibu : "coba buktikan kalau kamu bisa sehebat Cyril"
Ufa : "iya ibu aku pasti ak..." (dan seketika itu juga Ibu masuk ke dalam rumah lagi)
Ayah : "sudah, anggap Ibu tidak melakukan apa apa padamu"
Ufa : (tersenyum) "iya Ayah" (masuk ke dalam kamar mandi)
Satu minggu berlalu, besok adalah pertandingan olimpiade astronomi di Jakarta. Itu artinya dia harus meninggalkan Semarang hari ini, Ufa pamit dengan Yuda di kelasnya.
Ufa : "Yuda , doain aku ya"
Yuda : "engga mau"
Ufa : "kok gitu?"
Yuda : "aku ngga akan doain kamu sebelum kamu cium aku"
Ufa : "Yuda!" (mencubit Yuda)
Yuda : "hahaha pan ane becanda atuh neng.. iya pasti aku doain kamu kok Fa"
Ufa : "chiaaattt makasih Yud"
Yuda : "pasti, hati hati di jalan ya"
Sebelumnya memang Ufa sudah pamit pada kedua orang tuanya. Dan tiba saatnya dia meninggalkan Semarang, menaiki sebuah alat transportasi panjang, kereta api.
Di rumah Ufa...
Cyril : "bu, si Ufa beneran nekat ke Jakarta?"
Ibu : "kata Ayahmu si emang benar, kenapa Ril?"
Cyril : "yaa engga papa, semoga aja sih dia ngga mengunjungi club malam bu hahaha"
Ibu : "hahaha kamu bisa aja"
tiba tiba muncul Ayah keluar dari kamar.
Ayah : "astaghfirullah haladzim.. Cyril!"
Cyril : "kenapa pah? apa yang Cyril bilang tadi bener kan pah, siapa tau dibalik kalemnya dia ternyata ada suatu hal yang mengganjal gitu"
Ayah : "Ayah tidak suka apa yang kamu perbuat Cyril! Ayah tau kamu punya bakat yang sama tingginya seperti dia, tapi Ayah tidak terima kalau salah satu diantara kalian menghina satu sama lain!"
Cyril : "yang anak kandungmu sebenarnya siapa Yah? Cyril kan? kenapa Ayah selalu bela Ufa? ngga pernah bela Cyril!"
Ayah : (menampar pipi Cyril) (Ibu berdiri dari tempat duduknya)
Cyril : (memegang pipinya) "Ayah tega" (menangis, masuk ke dalam kamar)
Ibu : "Mas! Cyril itu anak kandung kita bukan Ufa! kenapa kamu terus bela Ufa? kenapa mas?"
Ayah : "Bu sebagaimanapun juga, Ufa tetap anak kita, aku bela semuanya bukan untuk pilih pilih, Ibu yang selalu membela Cyril, menghias lemari ruang tamu dengan piala Cyril, menyayangi hanya untuk Cyril, Ufa diapakan bu? Kalo ngga ada Ufa, ngga akan ada Cyril!" (masuk ke dalam kamar)
Ibu : "Mas, Mas !!"
Esok paginya di rumah, Cyril sedang mengenakan sepatunya di ruang tamu. Terlihat Ayah sedang sarapan di suatu ruang makan dalam rumah yang sederhana itu. Ayah, sesosok laki laki yang penuh tanggung jawab untuk keluarganya. Dan kali ini beliau akan meminta maaf pada Cyril tentang kejadian semalam.
Ayah : "Cyril, Ayah minta maaf tentang kejadian tadi malam, Ayah benar benar salah, dan sekarang Ayah minta maaf sama kamu nak, apa kamu mau memaafkan Ayah yang sangat berdosa ini kepadamu?"
Cyril : (terdiam) "Ibu Cyril pamit berangkat sekolah dulu ya" (pamit pada Ibu)
Ayah : "lho kok kamu ngga pamit sama Ayah?"
Cyril : “buat apa aku pamit sama Ayah yang ngga pernah bela anak kandungnya sendiri?” (pergi)
Ibu : “dengar sendiri kan mas, anakmu yang awalnya ngga seperti itu sekarang jadi anak yang kurang ajar sama orang tua, itu salah siapa? Salah kamu mas, salah kamu!”
Ayah : “Ibu, tolong.. Aku sudah berusaha minta maaf tapi apa hasilnya? Dia tetap menganggap seolah olah aku ngga ada! Harus berbuat apa lagi aku bu?”
Ibu : “kamu sudah telat mas, Cyril terlanjur sakit hati ketika kamu menampar pipinya” (menangis)
Ayah : “lebih sakit siapa? Dia atau aku? Ketika Ufa direndahkan oleh Cyril?”
Ibu : “dalam kondisi seperti ini kamu masih tetap membela dia? sungguh kau keterlaluan mas!”
Ayah : “ibu, aku minta tolong sekali lagi.. aku mau tanya apa Cyril pernah membantu kita saat kita susah? Saat kita sakit, dan saat kegiatan di setiap harinya bu? Ufa yang masak, Ufa yang merawat pekerjaan rumah, dan rasakan perbedaannya saat Ufa tidak ada di rumah sekarang!”
Ibu : (menangis) “mas, sudah cukup kamu membela Ufa, itu semua bikin Ibu sakit hati mas! Ibu yang melahirkan Cyril dan merawat Cyril, dan kamu turut menyumbangkan benih agar Cyril tumbuh, Cyril anak kandung kita mas, bukan Ufa!”
Ayah : “sudah berapa kali aku harus tekankan bu? Tidak ada Ufa, tidak ada Cyril!”
Ibu : “sudah cukup mas!” (masuk kamar)
Ayah merasa bersalah telah melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukannya, namun disisi lain jika Ayah tidak membela Ufa, kemungkinan dia ingin masuk Panti Asuhan lagi, tapi Ayah tidak rela melepas anaknya yang telah lama hidup bersamanya selama belasan tahun.
3 hari berlalu, Ufa tiba di Semarang setelah dari Jakarta dan membawa pulang sebuah kebahagiaan. Dia berlari menuju rumahnya dan ditemuinya Ibu.
Ufa : “Ibu, Ufa dapat juara 2 !” (bersalaman)
Ibu : “juara 2 kok bangga”
Ufa : “tapi bu…”
Ibu : “sudah sana masuk”
Ufa terlihat sedih, lagi lagi Ibunya menganggap hal yang luar biasa hebatnya menjadi hal yang sepele, dengan suasana hati yang tidak menentu, dia mandi dan mengganti bajunya, kemudian menangis di kamar, selang beberapa lama Ayahnya pulang, langsung menemui Ufa di kamarnya.
Ayah : “eh anak Ayah sudah pulang, bagaimana perlombaannya?”
Ufa : “Alhamdulillah lancar Yah, ini Ufa bawakan piala buat Ayah”
Ayah : “anak Ayah memang hebat ya, tak muat lemari di kamarmu ini berisi banyak piala disimpan di kamarmu, kau simpan piala ini di lemari ruang tamu ya”
Ufa : “ngga papa Ayah, biarkan piala ini di kamarku aja, di meja belajar masih kosong kok Yah”
Ayah : “engga nak, sini biar Ayah aja yang menaruhnya”
Ufa : “Ayah, sudah biar disini aja pialanya”
Ayah : “santai Ufa, Ayah ingin prestasimu dipajang di lemari sana” (Ufa hanya diam dan tidak berani berbuat apa apa)
Selang satu jam setelah Ayah meletakkan piala itu, terdengar suara benda terbanting di ruang tamu. Ufa berlari keluar kamar dan ternyata terlihat Ibu dan pecahan piala di bawahnya.
Ufa : (menangis) “Ya Allah, apa yang Ibu perbuat?”
Ibu : “seperti apa yang dilakukan Ayahmu pada Ibu!” (meninggalkan Ufa)
Ufa terus menangis sambil membetulkan piala itu dengan lem perekat, dia tidak terima hasil jerih payahnya tidak dihargai oleh Ibunya sendiri. Ayahnya mendekat, Ayah menceritakan semua yang terjadi selama Ufa di Jakarta, sampai sekarang Ayah tidak berani lagi berbicara dengan Ibu. Mendengar pernyataan Ayahnya, perasaan Ufa langsung hancur seiring hancurnya piala itu. Dia berpikiran untuk meninggalkan Ayah dan Ibu agar suasana rumah damai kembali, namun Ayah mencegahnya karena tidak ada semangat hidup lagi kecuali Ufa.
Ufa terus menangis sampai esok pagi dia berangkat sekolah, sebelum memulai jam pertama, ada upacara dadakan. Hari itu memang bukan hari Senin, jadi namanya bukan Upacara tapi Apel. Bu Ana menghampiri Ufa di kelasnya sebelum Yuda datang.
Bu Ana : “Ufa, nanti kamu menyerahkan pialanya untuk sekolah ya, kamu bawa kan?”
Ufa ingin berkata jujur, namun Ufa takut jika dia memberi tahu hal buruk tentang Ibunya.
Ufa : “eh Bu, maaf Ufa lupa bawa bu”
Bu Ana : “Ya Allah Ufa, kemarin kan Ibu sudah nyuruh kamu kenapa kamu lupa?”
Ufa : “emm anu Bu, emm”
Bu Ana : “ya sudah, nanti kamu menyerahkan piagamnya aja”
Ufa : “baik bu, sekali lagi Ufa minta maaf” (Bu Ana meninggalkan Ufa)
Tiba saatnya apel pagi dimulai, kemudian majulah Ufa ke depan menyerahkan piagam kepada Ibu Kepala sekolah itu. Ibu Kepala mengucap kata padanya : “Ibu bangga padamu, nak..”
Tanpa disadari, air mata Ufa menetes kemudian bersalaman.
Bu Ana : “Ufa kenapa kamu menangis?”. Ufa hanya tersenyum simpul padanya kemudian kembali ke barisannya.
Apel pagi selesai dilaksanakan, anak anak kembali ke kelas masing masing dan mengikuti pelajaran jam pertama sampai istirahat pertama.
Ufa : “Yud..”
Yuda : “iya Fa”
Ufa : “boleh ngga aku curhat sama kamu?”
Yuda : “dengan senang hati, pasti kamu nemu cowo ganteng kaya aku kan di Jakarta?
Ufa : “emang cowo ganteng kaya siapa?”
Yuda : “ya kaya aku dong hahaha” (mereka tertawa)
Ufa : “Yud, aku kasihan sama Ayah”
Yuda : “emang kenapa Fa?”
Ufa : “Ayah udah banyak berkorban buat aku, aku takut kalo selama ini Ayah hanya berpihak padaku, bukan sama Cyril. Tapi Ibu berbeda, dia terlalu berpihak pada Cyril. Waktu itu Ibu sempet marah karena Ayah terlalu berpihak padaku, aku takut Ibu dendam sama aku Yud”
Yuda : “Terus?”
Ufa : “Piala itu, kemarin Ayah menaruhnya di lemari ruang tamu yang isinya cuman pialanya Cyril. Tapi tiba tiba Ibu membantingnya, piala itu menjadi pecah Yud” (menangis, Yuda memeluknya)
“Aku bingung, aku harus berbuat apalagi? Aku ingin buat Ibu bangga atas prestasiku, meski.. meski dia bukan Ibu kandungku..”
Yuda : “bukan Ibu kandung? Ja.. ja.. jadi?”
Ufa : “Iya, selama ini aku anak tiri yang ngga pernah ada gunanya”
Yuda : “kamu ngga boleh bilang gitu Fa, masih ada aku disini, siapa tau aku bisa bantu kamu, apa yang kamu inginkan selain itu Fa?”
Ufa : “aku ingin, Ibu memelukku dan bilang ‘Aku bangga padamu, Nak…” (Ufa menangis)
Yuda : “doaku menyertaimu, Fa”
Malam Minggu Cyril diajak pacarnya untuk sekedar jalan jalan, meskipun itu bukan hal yang wajar. Tapi Ibu mengizinkan Cyril untuk pergi di malam itu, Ibu memberi kebebasan padanya. Rino mengajak Cyril ke suatu tempat yang sepi.
Cyril : “elo mau ngajak gue kemana, sayang?”
Rino : “ke suatu tempat yang indaah banget, elo ntar bakal ngerasain hal yang belum pernah elo bayangkan sebelumnya. elo akan terbang bareng gue, sayang” (terus menggandeng tangan Cyril)
Cyril : “hahaha ngaco, eh beb gue sayang banget sama elo”
Rino : “beneran?”
Cyril : “beneran lah”
Rino : “kalo iya, sekarang juga…”
Cyril : “apa?”
Perlahan bibir Rino menempel di bibir Cyril, mereka berciuman dan terjadilah hal yang tidak diinginkan [oh my God!]
Dan tiba tiba muncul bayangan laki laki dengan tinggi semampai mendekati mereka. Dia Yuda! Iya, Yuda memergoki mereka. Cyril kaget melihat kenyataannya. Yuda hanya melintas kaget lalu pergi meninggalkan mereka.
Hari Senin di Sekolah, tidak seperti biasanya Cyril berangkat lebih pagi dari Ufa untuk menemui Yuda yang sudah duduk terdiam di tempat duduknya.
Cyril : “anggep aja kemaren elo ngga liat apa apa, jangan ngadu ke siapapun termasuk Ufa, atau ke orang tua gue” (berbisik padanya)
Yuda : “emm..”
Cyril : “b****** lo! Tinggal jawab IYA aja susah bener”
Yuda : “iya ya gue ngga akan bilang ke siapa siapa”
Cyril : “janji ya, gue pegang omongan Lo”
Sorenya, Cyril mual lari ke kamar mandi. Ibu dan Ayah mengetahuinya.
Ibu : “kamu kenapa nak?”
Cyril : “engga papa Bu, mungkin cuman masuk angin aja kali”
Ibu : “oh, kalo gitu kamu istirahat, dan makan yang banyak ya”
Cyril : “iya bu”
Namun setelah 2 bulan lamanya, perut Cyril makin lama makin besar, dia hamil, sejak kejadian malam minggu itu bersama Rino. Namun Rino tak mau bertanggung jawab atas perbuatan yang pernah dilakukannya, Cyril pun jadi sering menangis dan dia harus bongkar semuanya namun bukan pada Ibunya, melainkan Ufa.
Di kamar Ufa…
Cyril : “Fa..”
Ufa : “Iya Ril.”
Cyril : “kamu liat kan kalo perutku makin lama makin besar”
Ufa : “kamu juga makin gendut, kamu mesti makannya jadi banyak ya, wah aku kalah”
Cyril : “aku hamil Fa” (menangis)
Ufa : “hah?”
Cyril : “ssssttt aku ngga mau Ibu dengar, please Fa jangan bilang ke siapa siapa termasuk Ayah dan Ibu, aku bakal gugurin kandungan ini sebelum Ayah dan Ibu tau.”
Ufa : “tapi Ril, jangan.. itu juga termasuk anak kamu.. jangan di gugurin itu dosa Ril”
Cyril : “aku… (tiba tiba Ibu memanggil dari luar kamar)
Ibu : “Cyril ini makanannya”
Cyril : “iya bu sebentar” (Cyril keluar kamar dan memakan makanannya)
Ibu menarik tangan Ufa, Ibu curiga karena baru pertama kali Cyril berbicara berdua di kamar. Kemudian ibu mendekati Cyril.
Ibu : “Ril, kok perut kamu makin lama makin besar?’’ (Ibu memegang perut Cyril)
Cyril : (melepas tangan Ibu) “engga bu, aku cuman kekenyangan aja”
Ibu : “kamu hamil?”
Cyril : (dengan terpaksa) “iya bu”
Ibu : “kurang ajar kamu Ril! Teganya kamu menjatuhkan derajat Ibu jadi lebih rendah! Ibu malu kalo tetangga mengira Ibu tidak benar mendidik kamu! Kurang ajar kamu Ril!” (Ayah memeluk Ibu)
Cyril : “bukan gitu buu, sungguh ini tidak sengaja bu!” (menangis)
Ibu : “dasar kamu anak yang tidak ada gunanya! Ibu tau kamu berbakat tapi bukan seperti ini yang Ibu mau, kamu menyakiti hati Ibu, Cyril!”
Cyril : “Ibu aku minta maaf buu…” (menangis)
“Argh babi lo Fa! Katanya elo janji ngga bakal bilang ke siapa siapa! Blangsak lo Fa!!” (teriak menangis)
Ufa : “yang blangsak itu kamu atau aku?! Kalau prestasimu dipuji terus sama Ibu, dan lemari ini dipenuhi piala kamu, baik.. aku bisa terima! Tapi kalo kamu menyakiti hati Ibu, aku ngga bisa terima Ril!”
Ibu : “Cyril! Sekarang juga beresin baju kamu dan angkat kaki dari rumah ini dan jangan pernah kembali ke rumah ini! Mulai detik ini Ibu ngga akan menganggap kamu sebagai anak Ibu lagi!”
Cyril menjerit keras, menangis, membawa baju bajunya pergi dari rumah.
Ibu dan Ayah masih menangis, orang tua manapun pasti akan kecewa jika anaknya melakukan hal yang tak diizinkan oleh mereka.
Tiba tiba ibu memeluk Ufa, dan mengatakan “Aku bangga padamu, nak..”
Sekarang Ufa hidup bahagia, menjadi orang yang sukses mampu mengangkat derajat orang tuanya, dan sekarang dia menikah dengan seseorang yang selama ini selalu setia menemaninya, Yuda.
Dan satu kalimat yang tak akan pernah berubah, Ibu terus memeluknya dan berkata “Aku Bangga Padamu, Nak…”
Karya : Anjelita Hanum Nur As-Syifa (@Anjelitahna)
Persembahan : teman teman, mantan, dan semua pembaca.
Tiada gading yang tak retak pasti banyak kesalahan dalam menyusun kata, ini adalah cerita pertama yang pernah aku buat, saya mohon kritik dan saran yang membangun terimakasih ;)
Read more...