"Bass Heroes Dan Anak Gitar"
>> Sunday, May 11, 2014
"Selamat pagi teman teman, perkenalkan nama saya Wildan, saya pindahan dari Bandung dan sekarang saya tinggal di kampung Manggis Dua" Kata seorang laki laki berumur 13 tahun memperkenalkan diri. Dia pindah ke sekolah di kampung ini karena tuntutan kerja ayahnya. Bima penasaran tentang kerja ayahnya itu, mungkin polisi atau mungkin tentara atau ah sebangsanya dia tidak peduli meski terus penasaran. Waktu itu bangku kelas VIII G tidak ada yang kosong, kecuali satu di sebelah bangku Bima. Awalnya Bima tidak suka duduk berdua dengan temannya yang sesama jenis, bukannya tidak mau bergaul atau dia malu atau mungkin dia terlahir sebagai seorang yang berani mengahadapi hidup dalam kesendirian. Tapi akhirnya, dia menawarkan Wildan duduk semeja bersamanya, dan tidak afdol namanya kalau tidak berkenalan kemudian mereka pun berkenalan. Bima masih tetap penasaran dengan pikirannya tadi ingin menanyakan pekerjaan ayahnya yang katanya pindah tugas. Tapi baru saja 5 menit berkenalan, masa harus tanya sedetil itu? Sebagai manusia yang berperi kemanusiaan Bima memutuskan untuk tidak mempertanyakannya.
Bel istirahat begitu cepat berbunyi, hari pertama setelah 3 minggu berlibur dirasa cukup untuk menyegarkan otak, Rifa menjalankan tugasnya sebagai anggota osis, meski bukan menjabat sebagai ketua osis yang konon tugasnya lebih berat dari para bawahannya. Tugasnya adalah mendampingi adik kelasnya yang duduk di bangku kelas VII untuk menjalankan kegiatan rutin tiap tahun, MOS. Melelahkan memang, dan tidak diberi upah uang, tapi ini tugas yang harus dilaksanakan sesuai janji yang dia sebut dulu sewaktu pelantikan sebagai anggota osis. Awalnya dia tidak berminat di Osis, tapi setelah pelantikan ternyata dia merasakan cukup mengasyikan dan sebagai latihan berorganisasi suatu saat nanti. Dia senang bisa sharing ke adik adik kelasnya tentang pengalamannya satu tahun yang lalu sebagai adik kelas termuda di sekolah itu. Yang dulunya lugu, tapi sekarang sudah agak dewasa sedikit meski belum tergolong dewasa tingkat atas.
***
Waktu begitu cepat terlewati, dan ternyata 2 bulan penuh anak-anak di sekolah itu bersekolah. Tiap anak sudah akrab dengan teman-teman di kelas barunya termasuk Bima dan Wildan. Yaa.. rasa penasaran yang dimiliki Bima tak kunjung usai, dengan aksi nekatnya itu dia menanyakan pada Wildan kenapa alasan mereka pindah kesini dan apa pekerjaan ayahnya. Setelah mendapat jawaban dari Wildan, Bima pun akhirnya tau. Dan tidak akan menanyakan lagi untuk yang kedua kalinya.
Ketika guru sedang mengajar di kelas itu, tiba-tiba terdengar seorang mengetuk pintu kelas yang tadinya tertutup dan kemudian terbuka oleh seseorang yang Bima ketahui satu tahun yang lalu namun belum mengenalinya, Rifa. Dia dan 1 teman Osis yang lain masuk ke dalam kelasnya membawa 2 kotak infaq. Seperti kebiasaan-kebiasaan terdahulu kalau anak osis membawa kotak infaq berarti ada orang yang meninggal atau sekedar hanya untuk amal. Dan sudah bisa ditebak, Rifa mengumumkan bahwa ada orang tua anak kelas IX yang meninggal. Kemudian dia dan temannya menarik uang kepada seluruh siswa yang ada di kelas itu termasuk Bima dan Wildan. Bima kagum dengan sesosok Rifa yang pendiam, sopan, rajin, baik, dan cantik. Seperti apa kata remaja sekarang ini, mungkin dia sedang merasakan jatuh cinta. Saking asyiknya dia membayangkan wajah Rifa, Rifa dan temannya meninggalkan kelas itu sembari mengucapkan terimakasih dan menebarkan senyumnya yang manis kepada seluruh isi kelas itu. Bima berhenti membayangkan sesuatu dia terbangun dari lamunannya karena Wildan. Selain pendiam, sebenarnya Wildan itu anak yang humoris dan suka menghibur. Dari sifat itulah Bima menyukai style Wildan dan menghilangkan sifat buruknya yang suka menyendiri itu.
***
Gubrak .
Bima : "Eh maaf, engga sengaja. Kamu ngga papa?" (menabrak Rifa tanpa sengaja)
Rifa : "Ngga papa kok, cuman ini kotak infaq jadi berantakan"
Bima : "Sini biar aku bantuin" (mengambil uang yang terjatuh)
Rifa : "Makasih ka"
Bima : "kok ka? Kamu yang tadi masuk ke kelas ku kan?"
Rifa : (menoleh) "Eh kamu ya, aku kira kakak kelas"
Bima : (tersenyum) "kenalin, aku Bima"
Rifa : "Eh duluan ya, aku gugup nih daahh" (meninggalkan Bima)
Bima belum beruntung, tapi dikata beruntung juga benar karena sudah bisa menatap mukanya dengan jarak kira-kira 60 cm, agak jauh memang tapi setidaknya tidak terlalu jauh sejauh angan-angannya. Wildan keluar dari toilet, kemudian mengagetkannya dari belakang yang tengah melamun menungguinya.
Wildan : "Mellamun mulu, ngalamunin siapa yaa?" (meledek Bima)
Bima : "Ih kamu jail banget sih! Awas kamu ya. Aku ngga ngalamunin siapa siapa kok haha" (tertawa menyembunyikan perasaannya berharap tidak diketahui oleh siapapun termasuk Wildan)
Wildan : "Apa hobi kamu itu melamun? Masih banyak kok di dunia ini yang harus dipikirkan tanpa harus melamun"
Bima : "Ah kamu ngomong apa sih, politik ngga usah di bahas di depan ku, oke?"
Wildan : "Politik? haha"
Bima : "Eh kok jadinya aku yang ngelawak, biasanya kan kamu?"
Wildan : "Berarti kamu ikut gila Ma, hahaha" (mereka tertawa bersama)
Hari Rabu, pelajaran seni dimulai jam pertama. Mereka mempelajari tentang musik. Dan kemudian anak-anak di kelas itu diwajibkan menampilkan satu alat musik untuk pertemuan minggu depan. Dan sudah tidak dihiraukan lagi, mereka sama-sama mempunyai bakat memainkan musik meski mereka belum mengetahuinya satu sama lain.
Di rumah, Wildan segera mempersiapkan lagu apa yang harus di bawakannya minggu depan dia memilih untuk memetik gitar kesukaannya meski hanya bunyi gitarnya saja tanpa lirik. Wildan berniat untuk membawakan nada bass, tidak hanya menggunakan chord yang biasa, namun dia akan memainkan sebuah chord lagu band ternama dari luar negeri. Sedang Asyiknya Wildan bermain gitar, tiba-tiba dia teringat seorang perempuan yang masuk ke dalam kelasnya menarik uang infaq padanya, dia terlihat sopan dan cantik. Apa dia juga merasakan hal yang sama seperti Bima? Jatuh cinta pada seorang perempuan cantik itu? Ah jangan sampai hal itu terjadi.
Tiba saatnya penilaian alat musik di kelas VIII G tepatnya di kelas Bima dan Wildan. Bima maju lebih dulu karena nama dia berinisial B yang lebih dulu daripada Wildan yang inisialnya W. Bima membawakan sebuah lagu hasil ciptaannya sendiri dengan diiringi musik gitar accoustic, dia berhasil dan dapat applous dari teman-teman kelasnya itu termasuk Wildan. Dan sampai Wildan maju ke depan, dengan lihai memetik senar gitarnya meski dengan nada bass, spontan sama dengan yang dilakukan pada Bima, Wildan mendapat applous juga dari teman-temannya.
Bima : "Dan? Itu yang barusan main gitar bass kamu kan? Ngga nyangka aku ternyata kamu hebat ya hahaha"
Wildan : "Makasih, Kamu juga mainnya bagus banget tadi"
Bima : "Makasih lagiii.. Kayanya asik nih kita bikin duet gitu. Kamu bassis aku gitaris. Trus kamu yang nyanyi. Gimana?"
Wildan : "Ide bagus, boleh" (tersenyum)
10 menit kemudian, pak guru mengumumkan 5 peringkat dengan nilai tertinggi pada penilaian itu. Tanpa diketahui, ternyata Wildan dan Bima menjadi runner up di kelas itu. Kemudian pak guru mengumumkan bahwa besok hari sabtu ada persami bagi kelas VII, Wildan dan Bima berhak untuk mempertunjukkan bakatnya Sabtu nanti.
***
Suara tepuk tangan riuh anak-anak kelas VII dan sebagian Bina Damping Pramuka terdengar, mereka kagum dengan bakat mereka berdua, begitu juga Rifa yang mengikuti Bina Damping tersenyum salut.
Rifa : "Eh, penampilan kalian bagus" (mendekati Bima dan Wildan)
Bima : "Kamu? hehe iya makasih. Kamu bina damping juga?"
Rifa : "Iya, awalnya aku ngga mau cuman aku ditunjuk buat jadi bina damping, yaa itung itung nambah wawasan lah"
Bima : "Oh gitu, eh kita belum kenalan ya? Kenalin namaku Bima, kamu?" (mengulurkan tangan pura-pura tidak mengerti namanya)
Rifa : "Rifa" (membalas jabat tangan Bima)
Bima : "eh iya, ini kenalin teman sebangkuku" (menggaet Wildan)
Wildan : "Wildan" (berjabat tangan dengan Rifa)
Rasanya biasa saja ketika dia menatap Rifa dan membalas uluran tangannya, kemudian mengenal namanya. Berarti dia memang tidak merasakan yang semalam dia bayangkan tentang Rifa. Yah berdasarkan perasaan itulah, dia tak mau memahami lebih dalam lagi.
Mereka saling bercakapan di pematangan sawah, bermain, berlarian, dan semacamnya seperti layaknya masa kecil yang suka tentang hal itu. Bima merasakan ada sisi nyaman ketika dekat dengannya, sudah jelas dan sudah terbukti bahwa ternyata sekarang dia sedang merasakan jatuh cinta. Sulit memang untuk mengatakan darimana datangnya perasaan itu mulai, tapi yang jelas dia saat ini ingin mengungkapkan semua itu pada Rifa.
Bima : "Fa, ini buat kamu'' (memberi seikat bunga bunga sawah pada Rifa)
Rifa : "wahh makasih Bimaa" (tersenyum)
Bima : "Fa.."
Rifa : "Ma, bagaimana kabar Wildan? Lama ngga ketemu, dia liburan kemana, Ma ?"
Selalu saja, ketika dia ingin membicarakan tentang perasaan padanya, Rifa menanyakan kabar Wildan atau menanyakan hal lain yang ada sangkut pautnya dengan Wildan. Ada rasa tidak nyaman saat dia mendengarnya, untungnya dia belum mengatakan perasaannya, kalau sudah mungkin sekarang dia malu.
Rifa : "Ma? Kok diem?" (Rifa mengagetkan Bima)
Bima : "Eh iya, kabar dia baik kok, dia ngga liburan kemana mana, dia ada di rumahnya, kenapa?" (Ucap Bima gugup)
Rifa : "Ngga papa, kangen aja"
Bima : "Eh kok liburan ini lamban banget ya, 15 hari lagi kan masih lama, pengen ketemu sama temen temen baru"
Rifa : "Iya nih sama, apalagi aku pengen ketemu sama Wildan"
Bima terdiam.
Rifa : "Pulang yuk udah sore nih, makasih buat hari ini Bima" (tersenyum meninggalkan Bima)
***
Liburan kenaikan kelas telah usai, itu artinya anak-anak yang tadinya kelas VIII sekarang menjadi kakak kelas tertua di SMP kota itu. Rolling kelas masih berlaku di sekolahnya, mereka bertiga menempati kelas yang berbeda. Rifa awalnya mengaku tidak merasa nyaman dalam kelas barunya karena dia salah satu anak yang terpisah dari teman akrabnya di kelas VIII. Tapi apa boleh buat, rolling kelas tak bisa di ganggu gugat lagi. Begitu juga Bima dan Wildan mereka terpisah jarak 1 kelas, tapi mereka berharap persahabatan mereka takkan pisah hanya karena mereka tak sebangku lagi.
Rifa suka sama Wildan, sejak pertama mereka berjumpa di dalam ruangan kelas satu tahun silam, Wildan tidak mengerti sebelumnya, dan tidak tau siapa sang pengagum rahasia yang sering mengirimnya barang-barang dan surat yang unik. Sebenarnya Rifa ingin sekali mengungkapkan rasa sukanya padanya, namun dia terlalu menjaga image-nya, yaa siapa sih yang ngga sadar kalo Rifa itu seorang cewek? Hal yang sama yang dilakukan oleh Bima pada Rifa, dia sering mengirim barang dan puisi yang cukup bagus yang dikirimkan padanya. Tapi Rifa tahu kalau itu pemberian dari Bima. Dari dulu, Bima suka dengan Rifa tapi justru sebaliknya, Rifa dekat dengan Bima bukan berarti dia suka dengannya, namun dia suka dengan Wildan sahabatnya.
Rifa sering main ke rumah Bima menanyakan beberapa hal dan tak lupa dia menanyakan Wildan, rumah Wildan tak jauh dari rumah Bima, jadi Rifa selalu mengajak Bima untuk main ke rumah Wildan. Dibilang menyakiti hati.. bukan, di bilang tidak menyakiti hati juga bukan. Rifa memang tak tau kalau Bima menyukainya jadi menurutnya perasaan Bima padanya biasa saja padanya.
Selang beberapa minggu kemudian, Rifa mendapat nomor handphone milik Wildan, belum ada BlackBerry waktu itu. Otomatis Rifa langsung sms Wildan menanyakan apapun yang berkaitan dengan bahasa yang `basa-basi` dan Wildan membalas pesannya dengan senang hati tidak tau kalau ternyata Rifa sedang mencuri perhatiannya. Waktu demi waktu berlalu tiba saatnya mereka menghadapi Ujian Nasional selama 4 hari ke depan untuk menentukan keberhasilan anak-anak selama 3 tahun bersekolah di SMP. Dan ketika Ujian telah selesai, Wildan dengan Rifa semakin dekat semakin dekat dan semakin dekat. Jadian? Tidak. *terlalu sinetron*.
Bima : "fa, gimana ujian kemaren?"
Rifa : "Lancar kok Ma, kamu gimana?"
Bima : "Lancar juga fa, kamu ngga tanya Wildan? Biasanya kamu sering tanya tentang dia di depanku"
Rifa : "Eh kamu kok gitu sih, kali ini engga deh kan aku udah tanya dia lewat sms"
Bima tersentak, berharap perkataan Rifa bukanlah sebuah kenyataan.
Bima : "Kamu punya nomernya?"
Rifa : "Iya punya, dari lama sebelum Ujian Nasional malah. Kenapa Ma?"
Bima : (Terdiam sejenak) "Oh, fa.. aku sakit denger kamu bilang kaya gitu.Iya aku paham mungkin kamu suka sama Wildan. Tapi padahal aku..."
Rifa : (Handphone-nya berbunyi musik dari lagu Baby-nya Justin Bieber) "Eh ada telfon, bentar ya Ma"
Bima dengan kekecewaannya itu kemudian berjalan meninggalkan Rifa terduduk di meja perpustakaan
Perpisahan. Sebuah momok terindah yang pasti akan dilalui oleh semua manusia di dunia ini, termasuk Rifa dan kawan-kawannya. Sisi lain perpisahan itu sebuah kejadian yang akan membuat sedih, kecewa, menyesal, dan mungkin rindu. Ini baru awal, mereka belum terlalu memahami apa itu arti kata perpisahan. Awalnya memang susah untuk melepas kejadian - kejadian yang tak mungkin dilepas, masa SMP adalah masa awal untuk memulai sesuatu hal yang baru untuk meneruskan ke jenjang berikutnya. Pesta pora, senang-senang, touring, dan sebangsanya merupakan bentuk kebersamaan kita selama ini, dan akan menjadi cerita indah untuk suatu saat nanti.
12 Mei 2010 - Anak anak menunjukan bakat mereka diatas panggung, memenuhi acara hiburan untuk menolak kesedihan di dalam perpisahan itu. Tak mau ketinggalan, Bima dan Wildan memainkan bakat mereka satu panggung dengan teman mereka yang lainnya. Sungguh mereka tak bisa tertandingi siapapun, kalau mereka memainkannya dengan sangat indah dan memukau seluruh isi satu sekolah tersebut. Sebelum mulai memainkannya, Wildan sang vokalis dan sekaligus bassisnya, mengawali dengan pembicaraan singkat yang isinya tentang hal yang akan dia lakukan nanti dan berbagai kata jika dia meninggalkan sekolah singgahannya itu. Dan kalimat terakhir, sulit, sulit dipahami memang tapi Rifa sangat yakin dia lah yang dimaksud Wildan. Sukses!
Ingin rasanya ku teriakkan "AKU LULUS !!" Akhirnya aku mengakhiri masa ini dengan berhasil. Dan aku akan mengawali langkah berikutnya dengan baik pula. Sekarang yang dirasakan saat ini adalah kegembiraan, yang belum bisa tergantikan dengan apapun. Dan tiba-tiba...
Wildan : "fa, boleh minta waktunya sebentar?" (Wildan menarik Rifa ke taman sekolah.)
maaf ya baaru bisa ngasih tau ke kamu, kalau aku.."
Rifa : "Kenapa Dan?"
Wildan : "Aku mau balik lagi ke kotaku yang dulu, ini bukan kemauanku fa, tapi Ayahku, dia pindah tugas lagi dan mungkin juga ngga akan balik kesini lagi"
Rifa : "Dan? Aku harap kamu bohong sekarang, kamu bohong kan Dan?!"
Wildan : "Aku serius, tapi aku janji bakal nemuin kamu suatu saat nanti kalau takdir menemukanku dan kamu lagi"
Rifa tiba-tiba menangis.
Wildan : "fa, udah jangan nangis, kamu itu bodoh! Orang sepertiku kenapa kamu tangisi?"
Rifa : "Omonganmu itu kaya nasi yang dibiarin seharian tau ngga? Basi !" (Menangis dan meninggalkan Wildan)
Wildan : "fa? Rifa !"
Munculah Bima.
Wildan : "Ma, kamu tau kan kalau aku mau pindah lagi ke kota asal dimana aku tinggal sebelum aku tinggal disini?"
Bima : "Iya tau Dan, tapi kamu serius bakal ninggalin temen-temen kamu disini?"
Wildan : "Sebenernya aku ngga mau Ma, cuman takdir misahin aku dan kalian yang disini. Kalian emang sehabat baik ku yang baru pernah aku temuin disini. Yang bisa ngertiin aku di segala keadaanku, yang mau nerima aku dari ssegala kekuranganku, dan aku tau aku ngga punya banyak harta atau apapun untuk bisa menggantikan jasa kalian selama aku disini."
Bima : "Ngga papa Dan, aku ngga minta balas kasihan mu kok"
Wildan : "Makasih ya Ma, selama ini aku banyak gangguin kamu, tinggal dekat rumah sama kamu, terimakasih juga atas waktunya yang pernah kamu kasih ke aku, atas kesempatannya aku jadi seorang personil yang mendampingimu jadi bassis"
Bima : "Iya Dan, sama - sama.. Semangat terus Bass Heroes!"
Wildan : "Iya Ma, dan satu lagi... Tolong jaga Rifa ya, aku tau kamu menyukainya. Selama ini aku memang ngga terlalu suka padanya, karena aku tau kamu menyukainya. Bahagiakan dia meski aku tak sempat membahagiakannya. Terus berkarya Ma, dan jangan pernah berhenti wahai sang Anak Gitar!" Dan kemudian Wildan meninggalkan Bima.
Dear Wildan Sang Bass Heroes...
kalau boleh jujur, kamu adalah seorang laki-laki pengecut! Yang tak pernah mau mengerti perasaanku sebagai perempuan yang menyukaimu apa adanya. tapi sisi lain kamu adalah seorang laki-laki yang hebat! Yang mengerti segala keadaan yang aku alami, dan kamu mengerti juga perasaan Bima yang ternyata menyukaiku. Tapi aku menyukai mu Dan.. aku ngga nyesel dan ngga akan pernah menyesal udah mengungkapkan seluruh perasaanku waktu itu. Tapi, sekarang aku ngga bisa menerima Bima gitu aja, aku cuman mau kamu. Tapi itu semua terserah kamu, keputusan ada di tangan kamu semua. Aku akan berusaha mencintai Bima yang mencintaiku, aku lakukan ini demi kamu.
Baik-baik disana ya Dan, jadi orang sukses disana, dan jangan pernah lupa sama aku :)
-Rifa Andara Sebastian-
Karya : Anjelita Hanum Nur As-Syifa (@Anjelitahna)
Persembahan : teman teman, mantan, dan semua pembaca.
Tiada gading yang tak retak pasti banyak kesalahan dalam menyusun kata, ini adalah cerita pertama yang pernah aku buat, saya mohon kritik dan saran yang membangun terimakasih ;)
0 comments:
Post a Comment