Powered by Blogger.

"My Beeboo"

>> Sunday, May 11, 2014

 Rintik hujan membasahi tubuhku, bus tak kunjung datang meski badan ini menahan dingin di malam itu. Lampu halte sedikit menghangatkan pandanganku. Suasana sepi, aku tahu tempat ini jarang dikunjungi banyak orang, kota mati. Tapi aku tetap menunggu kedatangan bus dalam halte itu. Bulu kudukku merinding, aku hanya ingin bermaksud untuk melindungi Beeboo. Seketika, bus Metro datang menjemputku, ku persilahkan Beeboo duduk disebelahku. Bus melaju dengan kencang, menambah dingin yang terus masuk sampai ke tulang. Aku tertidur, memeluk BeeBoo. Setengah jam berlalu, aku terbangun dan melihat sekelilingku tak ada lagi orang yang menduduki kursi bagian depan. Dan aku tak melihat kakek yang duduk di belakangku saatku menaiki bus ini. Jam ditanganku menunjukkan pukul 10.15, aku melampaui batas waktu. Bus tiba-tiba rem mendadak, aku merasa bus ini menabrak pohon besar di depan. Supir terjepit bagian depan bus. Kernet terpental keluar, kaca kaca mobil semua pecah. Aku terpental, terguling ke depan. Kepalaku terasa pusing, tapi aku masih tetap bisa terbangun menyelamatkan BeeBoo. Aku berjalan sempoyongan menuju keluar bus melewati pintu belakang yang lecet akibat gesekan pohon pohon yang lain. Darahku mengalir deras di kepalaku, pusing. Dan badanku lecet akibat terjatuh. Aku berjalan menuju halte yang lain, sepi. Tak ada bus yang lewat. Aku menyeberang ke sudut kota. Tiba-tiba sorot lampu mobil menuju ke arahku, mobil itu menabrakku, dan aku terpental jauh. Tapi aku masih tetap bisa bangun, kemudian aku mencari Beeboo. Kami duduk diantara pepohonan kering, di tepi jalan, di tepi air gemericik dari pancuran kota, diterangi lampu kota berwarna kuning menambah suasana sepi di tengah kota itu. Tepat jam 12 malam, aku sampai di gubuk tua tempat tinggalku bersama nenek dan kakekku. Aku mengetuk pintu , tapi tak ada balasan dari dalam rumah. Dan perlahan aku membuka daun pintu yang berwarna coklat itu, dan ternyata tidak dikunci. Aku ingin tidur, aku tak berniat untuk membasuh luka sobekku di sekujur tubuhku. Aku tidur, membiarkan BeeBoo tidur bersamaku. Dan kami terlelap.
          Aku mendengar suara nenekku memanggil, aku menjawab. Tapi nenek terus memanggilku, aku menjawab. Pendengaran nenek memang agak berkurang sejak 5tahun lalu. Aku membuka jendela, membiarkan cahaya masuk kamarku. Aku terbangun, membangunkan BeeBoo. Aku keluar menuju kamar mandi, ingin membasuh lukaku yang darahnya sudah mengeras. Dan ketika aku keluar, kakek dan nenek sudah tidak ada lagi di rumah. Aku seakan tak peduli apa yang sedang terjadi. 
          Di bawah terik matahari, aku duduk di sebelah BeeBoo, bercerita bersenda gurau. Meski aku tahu luka di kepalaku masih sangat sakit. Jam seginipun nenek dan kakek belum pulang. Aku memutuskan untuk pergi ke kota mencari mereka bersama BeeBoo. Sesampainya di kota, aku melintas melewati tempat yang tidak asing bagiku, bus yang aku tumpangi masih berada di jalan itu, masih dengan posisi yang sama saat aku sedang berada di dalamnya. Ku lihat banyak bercak darah di muka bus itu, di pintu depan, dan di bawah kursi tepat di depan kursi yang aku duduki. Supir dan kernet sudah tidak lagi ada disana. Beberapa orang dan polisi masih mengerumuni padahal panas terik matahari masih terasa menyengat. Aku berteriak, tapi tak ada seseorang yang menggubris teriakanku. Baiklah, aku putuskan lagi untuk melanjutkan mencari nenek dan kakekku, dengan BeeBoo yang masih setia berjalan di belakangku. 
         Aku melewati sebuah kantor polisi setelah aku jauh berjalan, aku perlahan lahan mendekat, dan aku melihat nenek dan kakekku di dalam ruangan sedang menangis saat ditanya oleh dua polisi. Aku mendekat, tapi, oohh tidak, jangan, kasian BeeBoo ada di luar ruangan. Aku menjauhi nenek dan kakekku. Aku putuskan lagi untuk menikmati hari itu bersama BeeBoo. Aku hanya ingin bermain seharian bersamanya. Kami menikmati indahnya taman kota yang sejuk, bermain air di area pancuran taman, seakan aku tak merasakan betapa perih dan sakitnya luka sobek di kepalaku. 
          Tepat pukul 7 malam aku tiba di rumah, ternyata sudah banyak orang memakai baju hitam. Aku sontak terkaget, aku berlari bersama BeeBoo menuju ruang tamu yang sesak akan manusia. Aku melihat sebuah peti mati di sudut ruang tamu, tapi aku melihat kakek dan nenekku sedang menangis melantunkan doa. Kemudian aku tak melihat BeeBoo lagi disampingku atau di belakangku. Aku menangis, dan aku tersadar. Jasad yang ada di peti mati yang berada di depanku itu ternyata aku. Aku meninggal karena kecelakaan yang menimpaku malam kemarin. Dan ini, aku berjanji setelah aku melihat jasadku, nyawaku tak mau lagi berada di dunia, aku akan berada di alam selanjutnya membawa kedamaian, dan BeeBoo.. sebuah bayangan yang akan terus menemaniku di alam yang abadi.

Karya : Anjelita Hanum Nur As-Syifa (@Anjelitahna)
Persembahan : teman teman, mantan, dan semua pembaca.
Tiada gading yang tak retak pasti banyak kesalahan dalam menyusun kata,  ini adalah cerita pertama yang pernah aku buat, saya mohon kritik dan saran yang membangun terimakasih ;)

0 comments:

About this blog's history...

Blogging since Junior HIgh School.
berawal dari iseng buat, lama-lama pengen nulis, eh nagih. Eh abis itu bosen. Yaa gitu lah pasang surut, remaja.
Blogging untuk sekedar sharing and saving. Enjoy!

Seguidores

    © Anjelita HNA. Friends Forever Template by Emporium Digital 2009

Back to TOP